oleh

Jelaskan Lelang Sungai, Rusdi Tamrin Angkat Bicara 

SUAK TAPEH, harianbanyuasin.com – Pemerintah Desa Lubuk Lancang Kecamatan Suak Tapeh memastikan lelang sungai alam yang dilakukan bersama dengan PT Kasih Agro Mandiri (KAM) beberapa waktu lalu telah melalui proses tahapan legal dan resmi.

 

Kepala Desa Lubuk Lancang, Rusdi Tamrin, membenarkan lelang sungai tersebut dilakukan namun tidak ada hubungan sama sekali dengan tanah warga.

 

“Sungai Sake di Desa Lubuk Lancang sampai dengan sungai Beremi Desa Biyuku itu tidak masuk dalam agenda lelang tahunan yang dilakukan dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Banyuasin termasuk juga lelang kecamtan maupun desa,” jelas Rusdi kepada harianbanyuasin.com

 

Namun, seiring dengan berdirinya PT KAM, kebutuhan akan air untuk keperluan pabrik dari aliran sungai tersebut yang tentunya telah mengantongi izin SIUP dan SITU dari Pemkab Banyuasin melalui proses perizinan mulai dari desa hingga kabupaten, kedua Pemdes menyepakati untuk mengelola sungai untuk menjadi sumber Pendapatan Asli Desa (PAD) tahunan.

 

“Ditengah beroperasinya PT KAM maka saya Kepala Desa Lubuk Lancang bersama Kepala Desa Biyuku, mengambil inisiatif agar sungai tersebut bisa dilelang dan dapat menambah APBDes setiap tahunya,” terang dia.

 

Niat baik tersebut rupanya direspon positif oleh perusahaan. Sungai tersebut laku dan diambil lelangannya sebagai pengemin sebesar Rp 25 juta.

 

“PT KAM tidak memonopoli sungai tersebut, sesuai perjanjian lelang mereka tetap memperbolehkan masyarakat khususnya nelayan yang mencari ikan di sungai Sake dan Beremi baik mayarakat Desa Lubuk Lancang sendiri maupun Desa Biyuku. Dengan catatan tetap menjaga kelestarian sungai,” lanjut dia.

 

Pihaknya mengaku kaget dengan adanya kesimpang siuran dalam pemberitaan yang disampaikan oleh oknum masyarakat yang menyebut Pemdes telah melelang sungai secara “ilegal”.

Dirinya meminta agar oknum memastikan terlebih dahulu kebenaran sebelum berbicara.

 

“Saya kaget ketika ada warga Desa Biyuku mengatakan bahwa tanahnya dilelang, sudah jelas bahwa lelang yang dilakukan untuk peningkatan PADes tersebut adalah sungai, bukan tanah. Ini sudah membuat opini dimasyarakat yang secara tidak langsung merugikan pemerintah,” tegas dia.

 

Dengan nada penuh kecewa, Rusdi Tamrin menyesalkan ulah oknum masyarakat yang secara sepihak berbicara tanpa ada komunikasi lebih dulu, terlebih dengan Pemerintah Desa.

 

“Desa Biyuku turut diuntungkan dalam lelang ini, sebab, lelang tersebut awalnya hanya untuk Desa Lubuk Lancang. Namun, jika masyarakat Desa Biyuku tidak berkenan sungai yang terhubung dengan sungai Desa Lubuk Lancang untuk dilelang, maka tahun depan kami hanya akan melelang sungai Desa Lubuk Lancang sendiri,” beber Ketua Forum Kades Suak Tapeh ini.

 

Selain upaya meningkatkan PADes tahunan melalui lelang sungai alam, Pemdes Lubuk Lancang telah mengusulkan agar sungai alam yang mengaliri kedua desa dapat dinormalisasi.

 

“Kami bersama Desa Biyuku tengah mengususulkan pada PT KAM untuk dapat membantu normalisasi sungai. Yang ujungnya untuk meningkatkan produksi padi dengan lahan pinggir sungai akan dibuat cetak sawah,” tambah dia.

 

Dengan membaca potensi ini, Rusdi Tamrin mengaku heran jika ada oknum masyarakat di Desa Biyuku secara mengebuh mempersoalkan lelang sungai yang notabene resmi dan sah secara hukum dilakukan sesuai prosedur yang berlaku.

 

Kemudian menurutnya, belakangan terakhir adanya upaya pemerintah desa untuk menormalisasi sungai alam juga turut menjadi penolakan di masyarakat Desa Biyuku, padahal, manfaat dan dampaknya sangat baik untuk perekonomian rakyat.

 

“Beberapa waktu lalu saya heran ada oknum masyarakat Desa Biyuku yang menolak rencana kedepan PT KAM yang akan menormalisasi sungai mulai dari muara Sake sampai hilir sungai Beremi Desa Biyuku, padahal jika dilihat sungai tersebut sudah cukup lama sulit dilewati,” ungkap dia.

 

Dirinya berharap masyarakat untuk berfikir positif utamanya dimasa pandemi Covid-19, ditengah pemerintah mengalakan investasi ke berbagai daerah untuk meningkatkan ekonomi, tetapi di wilayah sendiri justru oknum masyarakat membangun pola berfikir pesimisme.

 

“Saya mengharpkan warga dapat berfikir positif dengan apa yang kami lakukan, dengan berdirinya prusahaan di desa ini supaya mampu membuat desa bisa berkembang, maju dan tentunya dapat membantu ekonomi karyawan yang berasal dari desa kami,” tutur dia.

 

Selaku Kepala Desa Lubuk Lancang, dirinya mempersilahkan jika oknum masyarakat yang merasa tidak puas dengan kebijakan yang diambil agar bertemu langsung dan duduk bersama untuk memperjelas pokok masalah.

 

“Saya tidak menutup diri, 12 jam kantor desa terbuka. Siapapun yang ingin bertanya dan berdiskusi mengenai persoalan tersebut kita terima dan jelaskan, bukan membuat opini dan kegaduhan di masyarakat. Situasi kita saat ini tengah fokus menghadapi pandemi, kasian masyarakat yang terbawa opini pesimisme dengan pemberitaan menyudutkan,” tutup dia. (jau)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lain-nya