oleh

Kapitalisme: Pencetak Generasi Durhaka

Oleh: Ismawati

PILU, membaca berita seorang anak yang tak sanggup merawat ibunya. Bak sebuah pepatah, “Seorang ibu sanggup memelihara dan merawat 10 anaknya. Tapi, 10 anak belum tentu dapat menjaga dan merawat seorang ibu”. Seperti yang terjadi pada seorang ibu bernama Trimah, 65 tahun, warga Magelang, Jawa Tengah yang dititipkan ke sebuah panti jompo, Griya Lansia Husnul Khatimah, Malang, Jawa Timur. Dikutip dari viva.co dalam wawancara TVONE, Minggu (31/11), alasan ia dititipkan ke panti jompo adalah karena anak-anaknya tidak mampu membiayai orang tua.

Tidak hanya itu, pada tahun 2020 pria lanjut usia (lansia) ditemukan meninggal dunia di salah satu lokasi dalam wilayah Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh sekitar 15.00 WIB, Jumat (3/4/20). Pria lansia ini ditemukan dengan postur kurus, lemah, nafas terengah-engah, dan tangan membengkak.

Mengapa kasus penelantaran orang tua begitu massif terjadi? Tidakkah sang anak berfikir bahwa kita lahir dari rahim ibu kita. Kita tumbuh besar menjadi anak yang sehat, gizinya terpenuhi, berpendidikan itu karena keringat dari ayah kita yang tak pernah mengeluh. Sadarkah, siang malam ibu menjaga dan merawat kita. Rengekan kadang membuatnya penat dan jenuh, namun kasih sayangnya yang besar, menepis rasa kesalnya pada kita. Kitalah dulu yang membuat orang tua kita tak dapat tidur nyenyak, setiap detik yang mereka fikirkan tentang kita adalah terus memberikan yang terbaik meskipun nyawa taruhannya.

Namun kini, dengan mudah sang anak yang begitu dicintai meninggalkan orang tua yang pernah merawatnya. Sungguh, arus sekularisme (memisahkan agama dari kehidupan) itu semakin nyata, individu semakin miskin iman. Sehingga halal dan haram tak menjadi standar perbuatan. Bahkan, semakin diracuni pemikiran materialistik dalam sistem kapitalisme. Dimana, materi (uang) menjadi tujuan. Alhasil, semakin memunculkan generasi-generasi durhaka kepada orang tua.

Tekanan ekonomi yang semakin menjadi menyebabkan anak tak mampu mengurus orang tua. Orang tua yang renta dianggap hanya menambah beban keluarga. Hingga anak tak lagi menjadi pelindung dan penyayang orang tua. Maka, panti jompo menjadi tujuan, bahkan ditelantarkan hingga dibuang. Na’udzubillah! Begitu keji kapitalisme menggerus nurani anak kepada orang tuanya.

Sistem kapitalisme pula yang menjadikan anak dididik untuk mencari materi. Terkadang, tumpuan orang tua dalam menyebut standar kesuksesan seorang anak adalah ia yang hanya sukses harta duniawi semata. Alhasil, anak hanya disibukkan mencari materi dan semakin jauh dengan Islam. Sistem ini pula yang menggerus tanggung jawab dan rasa hormat anak kepada orang tuanya.

Oleh karena itu, kisah lansia terbuang atau ditelantarkan harus segera diselesaikan. Pilar terbesar adalah perlunya peran Negara. Negara harus hadir menjamin segala kebutuhan rakyatnya, terutama masalah ekonomi yang semakin menjadi. Misalnya dengan membuka lapangan kerja seluas-luasnya bagi ayah agar dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Kemudian Negara dengan bijak mengelola sumber daya alam untuk kepentingan rakyatnya.

Selain itu, Negara juga turut hadir mengubah pola pendidikan sekuler kapitalisme dengan Islam. Karena pendidikan Islam tak berstandar pada materi namun menjadikan individu berkepribadian Islam. Generasi yang lahir dalam sistem pendidikan Islam adalah generasi yang beriman dan bertakwa, sehingga halal dan haram selalu menjadi tumpuan melakukan perbuatan.

Sehingga, dengan pola pendidikan Islam akan terbentuk pribadi anak yang menyayangi dan menghormati orang tua. Baktinya kepada orang tua akan dilakukan hingga akhir hayat hidupnya. Sebab, Rasulullah Saw mengingatkan bahwa dosa besar bagi siapa saja yang durhaka kepada orang tuanya, “Dosa besar yaitu menyekutukan Allah dan durhaka kepada orang tua” (HR. Bukhari Muslim, dan Tirmidzi).

Islam juga sangat memuliakan kedua orang tua dan memerintahkan anak untuk bersikap lemah lembut. Allah Swt berfirman, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah!’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (TQS. Al-Isra: 23-24).

Oleh karena itu, dibutuhkan sistem yang shahih (benar) untuk mengatur seluruh kehidupan manusia, yakni negara dengan sistem pemerintahan Islam secara sempurna (keseluruhan). Sebab, hukum-hukum yang digunakan berasal dari Allah Swt semata bukan buatan manusia. Negara akan membentuk sistem ekonomi berbasis Islam dan tidak membiarkan rakyatnya kelaparan atau dalam garis kemiskinan. Kesejahteraan rakyat akan terjamin dalam Negara dan memastikan individunya benar-benar mendapatkan sandang, pangan dan papan. Jika kesejahteraan dan pola pendidikan Islam ini terwujud maka tidak akan ada lagi kisah lansia terbuang karena faktor ekonomi.

Ingatlah bahwa berbakti kepada orang tua adalah salah satu jalan masuk surga. Dari Abu Hurairah, Nabi Saw. Bersabda : “Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina,” ada yang bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda (Sungguh hina) orang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru ia tidak masuk surga.” (HR.Muslim).

Wallahu a’lam bishowab. (**)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lain-nya