oleh

Mencintai Nabi SAW

Oleh: Saptaningtyas

Majelis Mutiara Umat

 

TIAP bulan Rabiul Awal tahun Hijriyah, umat Muslim dunia, tak terkecuali Indonesia memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Perayaan Maulid Nabi atau memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW dimaksudkan untuk menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW, insan pilihan Allah sebagai teladan bagi umat manusia.

 

Mencintai Rasulullah SAW adalah suatu yang lazim, bahkan wajib bagi setiap Muslim sebagai konsekuensi keimanan. Kecintaan itu harus ditumbuhkan, dipupuk dan dipelihara agar cinta itu benar-benar terwujud dalam jiwa, dalam lisan maupun perbuatan hingga sampai pada derajat kecintaan tertinggi. Yaitu, mencintai Rasulullah melebihi cinta terhadap apa pun di dunia, bahkan melebihi cinta terhadap diri sendiri.

 

Abdullah bin Hisyam menceritakan suatu kisah ketika Umar bin Khattab bersama Rasulullah SAW. Saat itu Umar berkata, “Demi Allah, wahai Rasulullah, engkau lebih aku cintai daripada segalanya, kecuali diriku sendiri.” Mendengar perkataan Umar, Nabi SAW bersabda, “Tidak beriman salah seorang dari kalian sampai aku lebih dicintai daripada dirinya sendiri.”

 

Mendengar sabda Rasulullah, Umar pun berkata, “Kalau begitu, demi Allah, engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Mendengar jawaban Umar, Rasulullah menjawab, “Sekarang imanmu telah sempurna, wahai Umar.”

 

Dengan demikian, sebagai Muslim, cinta kepada Nabi Muhammad SAW haruslah kita miliki. Sebab, Allah dan Rasul-Nya akan melimpahkan cinta dan rahmat-Nya kepada insan yang mencintai Allah dan Rasulullah. Nabi SAW bahkan menegaskan bahwa kelak di akhirat, seseorang akan bersama yang dicintainya. Dengan begitu, jika kita mengharap dapat bersama Nabi dan orang-orang shalih di surga-Nya, maka mencintai Nabi dan orang-orang shalih menjadi keharusan.

 

Bentuk mencintai Rasulullah SAW adalah mengingat dan bershalawat kepada Beliau SAW. Bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad ini bahkan ditunjukkan oleh Allah SWT. Betapa Allah mencintai Rasulullah. Allah mengingati Beliau, meninggikan penyebutan nama Beliau. Allah pun bershalawat kepada Beliau SAW.

 

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab [33]: 56)

 

Allah pun meninggikan sebutan nama Beliau. QS. An-Nisa’ Ayat 59 artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad)…” Dalam ayat tersebut Allah SWT menyebut nama Rasulullah (Muhammad) setelah nama Allah.

 

Selain itu, nama Nabi Muhammad SAW juga disebut dalam syahadat. Tidak sah syahadat kecuali menyebut nama Beliau. Nama Beliau ditinggikan dalam azan, dan iqamah. Di dalam doa dan lantunan bacaan shalat pun demikian. Itulah wujud mengingat Rasulullah SAW.

 

Namun demikian, bentuk kecintaan kepada Rasulullah SAW tidaklah cukup pada mengingati dan menyebut nama Beliau. Akan tetapi, bukti kecintaan yang paling penting dan yang paling utama adalah ittiba’ (mengikuti/meneladani) Rasulullah SAW sebab, Beliaulah teladan terbaik (Uswatun Hasanah) bagi manusia di bumi.

 

Allah berfirman, “Katakanlah, ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian’.” ( Q.S. Ali Imran: 31)

 

Karena itu, mencintai Rasulullah SAW bukan cukup hanya mengingat beliau pada saat peringatan Maulid, tetapi di setiap saat, setiap waktu mengingat Beliau, senantiasa mengikatkan segala perbuatan dengan syariat Islam yang Beliau ajarkan.

 

Dijelaskan oleh KH Rahmat S. Labib, mengutip Imam Al Qadhiyat dalam kitab Asy Syifa, bahwa tanda seseorang cinta kepada Nabi SAW adalah meneladani, menggunakan dan mempraktikkan sunnah Nabi, mengikuti perkataan dan perbuatannya, termasuk mengerjakan yang diperintahkan, meninggalkan segala yang dilarang, mengikuti adab-adab yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

 

Karena itu, ketika risalah Islam yang dibawa Nabi SAW adalah risalah yang sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan, maka tidak benar bila seorang Muslim mengaku mencintai Nabi, tetapi mencukupkan diri pada amalan-amalan tertentu saja.

 

Tidak benar bila seorang Muslim mengakui syariat Islam hanya sebagian saja dan menolak sebagian yang lain. Misalnya, mengerjakan shalat tetapi mengingkari kewajiban menutup aurat, bergegas memenuhi seruan sedekah tetapi mengabaikan keharaman riba, rajin tilawah Al-Qur’an tetapi menolak sistem pemerintahan Islam, dan sebagainya.

 

Hal itu karena syariat Islam adalah risalah yang sempurna, yang mengatur bukan hanya perkara ibadah ritual dan spiritual seperti shalat, dzikir dan semisalnya semata. Tidak pula hanya mengatur masalah akhlak, makanan dan pakaian. Akan tetapi, syariat juga berisi tentang fikih muamalah maupun siyasah, mengatur masalah ekonomi, interaksi sosial hingga sistem bernegara serta seluruh aspek kehidupan lainnya.

 

Tidak ada risalah yang saat ini wajib diikuti, kecuali risalah Nabi Muhammad SAW, sang Nabi terakhir. Karena itu, sudah saatnya umat Islam mewujudkan kecintaan kepada Nabi Muhammad secara utuh dan menyeluruh sebagai wujud kecintaan kepada Allah dan Rasulullah dengan menerapkan syariat Islam secara kaffah. Dengan demikian, kehidupan akan menjadi tentram dan penuh berkah sebab Islam membawa rahmat bagi seluruh alam. Wallahua’lam. (**)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lain-nya