oleh

Menyikapi Moderasi Beragama

Oleh : Hani Handayani

KEMENTERIAN Agama Republik Indonesia dalam upaya mencegah paham radikalisme, terjunkan kembali ratusan Penyuluh Agama Islam non Pegawai Negri Sipil (PNS) ke wilayah pedesaan Kabupaten Banyuasin, (harianbanyuasin.sumeks.com, 18/12/2021).

Program ini adalah upaya Kementerian Agama (Kemenag) untuk mengarus ide moderasi beragama. Konsep moderasi beragama adalah cara pandang yang membawa orang ke jalan tengah, jauh dari jalan yang berlebihan atau ekstrem. Dengan moderasi beragama masyarakat menjadi toleran tanpa kekerasan, menghargai budaya, dan memiliki komitmen kebangsaan yang kuat, ( kemenag.go.id, 10/12/2021).

Jika menilik konsep moderasi yang menjadi program Kemenag ini, mengundang pertanyaan apa ada yang salah dalam cara pandang umat Islam saat ingin menjalankan Islam Kaffah (sempurna) sehingga harus ada jalan tengah?. Apakah harus ada jalan tengah dalam penerapan hukum-hukum Allah Swt yang sudah pasti ketetapannya?. Apakah seorang muslim yang meyakini bahwa Islam adalah satu-satunya agama benar dibilang radikal?

BACA JUGA :  Pol Airud Terima Hibah Kendaraan

Ada Apa Dibalik Istilah Radikal dan Moderat

Istilah moderat dan radikal adalah, istilah yang muncul dari barat. Dimana radikal disematkan pada paham keagamaan (Islam) pada kelompok-kelompok Islam yang anti barat, ekstrem dalam beragama . Sementara untuk melawan Islam radikal dimunculkanlah istilah moderat, (buletin Kaffah No.223, 17/12/2021).

Moderasi beragama bertujuan menjauhkan umat Islam dalam ketaatan total kepada Allah Swt, umat Islam diminta berkompromi dalam penerapan syariat Islam. Umat Islam diminta toleran terhadap agama lain dengan mengatakan semua ajaran agama sama, padahal jelas di dalam Al Qur’an , Allah berfirman “Dan barang siapa mencari agama selain Islam, ia tidak akan diterima dan di akhirat dia termasuk orang yang merugi” (TQS: Ali Imran: 85). Rasulullah pun menegaskan “ Islam itu tinggi dan tidak ada yang bisa menandingi ketinggian Islam ( HR. Ad-Daruquthni (111/181 No.3564)).

BACA JUGA :  Kecamatan Talang Kelapa Banyuasin, Laksanakan Pilkades Secara E-Voting di Lima Desa

Maka wajar bila umat Islam wajib meyakini Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Tentu bila ini disebut radikal maka ini adalah hal yang menyedihkan  dan menyesatkan.

Dampak Moderasi Beragama

Bila ide moderasi beragama ini terus ditiupkan akan berdampak pada;

Umat Islam akan jauh dari hakikat Islam Kaffah , karena bisa dibenturkan dengan moderasi beragama.

Umat Islam akan mengalami krisis identitas.

Islamofobia dimana umat Islam menjadi takut dengan ajaran Islam.

Islam tidak dianggap sebagai solusi kehidupan pada seluruh persoalan kehidupan, padahal Islam adalah mempunyai solusi semua persoalan kehidupan baik di dalam Al Qur’an, hadis, ijma sahabat dan qiyas.

Semua agama dianggap sama karena ide pluralisme di dalam moderasi bergama.

BACA JUGA :  Persiapan Pelantikan Serentak, Sejumlah Kades Ikuti Gladi Bersih

Menjauhkan umat dari memperjuangkan Islam Kaffah.

Menghalangi  persatuan dan kebangkitan umat.

Maka seyogianya moderasi beragama bukanlah solusi bagi umat Islam, karena moderasi beragama tidaklah memberikan kebaikan apapun bagi umat Islam. Harus dipahamkan bahwa Islam bukanlah ancaman karena sesungguhnya Islam adalah agama rahmatan lil alamin, saat di terapkan secara sempurna dalam seluruh aspek kehidupan.

Padahal, Allah telah memerintahkan pada umat Islam untuk beragama secara kaffah sebagaimana firman-Nya : “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu” (QS Albaqarah : 208) Wallahu a’lam. (**)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Lain-nya